JEPARA
art and culture

KUSTAM EKAJALU situs

Belajar Kebudayaan lokal

 
sebagai salah satu bentuk hasil karya cipta anak Jepara berupa seni ukir, pintu ini juga sebagai  simbol gerbang untuk pembelajaran terhadap kebudayaan masyarakat Jepara maupun karya seni dari masyarakat Jepara itu sendiri

 

 

KARTINI art SUMmit

 R.A. Kartini sebagai sosok perempuan, dengan kondisi terbatas karena budaya patriarki ketat yang terjadi pada awal abad 19, telah mencoba berbagai cara untuk mendobrak sistem budaya yang sangat merugikan perempuan pada khususnya dan kemajuan kualitas sumber daya manusia negeri ini pada umumnya. Dari sistem pendidikan yang coba disharingkan kepada kawan-kawanya di luar negeri telah membawa perubahan pemikiran kepada kaum hawa, banyak sekali referensi atau buku-buku yang telah diterbitkan memuat siapakah itu R.A. Kartini dan bagaimana sepak terjang serta pemikiran perempuan yang terkungkung tembok kebangsawanannya sendiri..

Berawal dari rasa memiliki Pahlawan wanita tersebut, maka orang0orang yang tergabung dalam Masyarakat Seni Mayong membuat sebuah event dalam momen tersebut dalam bidangnya, yaitu segala bentuk kegiatan maupun apresiasi kesenian  yang hidup di Jepara maupun kota-kota disekitarnya. Event ini selain bertujuan sebagai bentuk penghargaan kepada R.A. Kartini, juga sebagai ajang silaturahmi bagi insan seni dan budaya, dan membuka ruang publik untuk eksplorasi karya serta hiburan bagi masyarakat umum

Pada kegiatan yang telah dimulai sejak tahun 2008,  sambutan masyarakat sangatlah antusias, hal ini dapat terlihat bahwa setiap pementasan maupun selama event berlangsung selalu dipadati oleh pengunjung. Kartini Art Summit digelar pada setiap bulan April tiap tahunnya dan konsep dari diadakannya acara ini adalah mendekatkan proses kesenian kepada masyarakat sekitar dan tidak hanya nama Kartini yang melekat di benak masyarakat, tetapi proses pemikiran serta semangat untuk melakukan perubahan kepada kualitas yang lebih baik untuk segala hal, terutama merubah budaya yang merugikan perkembangan maupun kemajuan dalam meningkatkan sumber daya manusia.

SALAM BUDAYA !! 

( photo-photo lihat di gallery ) 

JITAPSARA ( Jaringan Teater Pelajar se-Kabupaten Jepara )

 

Keberadaan cabang seni Teater di kabupaten Jepara di tingkat SMA Sederajat pada tahun 1990 hingga sekarang telah berkembang dengan pesat dengan beberapa indikasi diantaranya munculnya komunitas – komunitas baru di tingkat SMA atau sederajat, meningkatnya jumlah anggota yang semakin banyak serta beberapa indikasi lain. Akan tetapi dengan adanya perkembanan ini sudah barang tentu muncul beberapa permasalahan baik permasalahan positif maupun permasalahan permasalahan negatif, adapun permasalahn yang positif seperti yang telah dikemukakan diatas, dan sebaliknya permasalahan negatifpun mengiringi perkembangannya seperti halnya kurang terkoordinir dari setiap komunitas, munculnya persaingan-persaingan yan tidak sehat, yang andaikata hal ini dibiarkan berlarut-larut  maka akan timbul hal-hal negatif.

Berangkat dari beberapa permasalahan tersebut diatas, muncullah inisiatif dari beberapa pembina di tingkatan SMA Sederajat yang mana bertujuan menjadi jembatan menyelesaikan masalah ditingkatan komunitas SMA Sederajat juga memberikan beberapa inisiatif-inisiatif yang berisfat membangun, yang ahirnya dari kesepakatan tersebut terbentuklah Jaringan Teater Pelajar se Jepara yang kemudian disingkat JITAPSARA.

Proses awal untuk memperkenalkan diri kepada khalayak publik dari setiap lembaga yang berdiri adalah launching, untuk itu JITAPSARA pun dalam melangkahkan program kerjanya juga demikian.

Berdasarkan kesepakan awal untuk membangun nalar berkesenian khususnya cabang seni teater,  JITAPSARA mencoba menyuguhkan salah satu program untuk menambah wawasan di dunia acting dengan mengadakan Work Shop Teater dengan beberapa sub bahasan diantaranya Materi Keaktoran, Manajemen Pementasan, Metode Pembuatan Naskah, Artistik, dan Penyutradaraan yang kesemuanya itu merupakan modal dasar dalam bereater. Selain program tersebut, Jitapsara coba menjembatani setiap kebutuhan pementasan kelompok-kelompok teater pelajar yg tergabung menjadi jaringannya di Jepara.

Tentunya sebagai sebuah lembaga jaringan harus terus mengeksplorasi kreatiitas program demi tercapainya visi dan misinya, tidak terkcuali JItapsara sendiri yang harus terus berbenah diri dan mencoba trial and error gna kemajuan bersama.

BRAVO TEATER di INDONESIA !! 

GERABAH MAYONG

 

"Wadhuh udan terus ki piye..?" Terdengar ungkapan kalimat meluncur dari mulut perempuan paruh baya yang memutar alat untuk membuat gerabah.musim yang kstrim saat ini sangat mengganggu aktivitasnya untuk membuat beberapa pesanan gerabah dari luar kota," tidak terlalu rame, yang penting cukup buat bumbu dapur."keluhnya saat ditanya, apakah pesanan yang diterima bisa untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan keluarga.

itulah sisi lain dari beberapa anggota masyarakat  di desa Mayong Lor, kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara yang setiap harinya bekerja sebagai pengrajin gerabah. mereka melakukan aktivitasnya dengan ketrampilan turun temurun dari orang tua dan berusaha untuk tetap mempertahankan tradisi atau budaya ekonomi di keluarganya. Saat ini sebagai pengrajin tidak cukup menjanjikan dikarenakan proses marketing yang masih terkesan tradisional, meskipun semenjak 1980 pemerintah daerah telah mencanangkan daerah ini menjadi sentra kerajinan keramik gerabah.

secara kualitas hasil dari kerajinan gerabah masyarakat mayong lor tidak kalah dengan kualitas daerah lain, namun secara inovasi belum berkembang dan hanya  mengandalkan bentuk desain sesuai pesanan. tetapi ada salah satu orang yang telah berusaha untuk terus mengembangkan inovasinya dalam hal desain, yaitu Kasturi maestro keramik gerabah mayong yang telah belajar pembuatan keramik sampai ke China dan karyanya telah merambah ke mancanegara

Saat ini  yang dibutuhkan oleh para pengrajin adalah bentuk pemfasilitasan dari pemerintah untuk membuat sistem marketing dan pemasaran, dikarenakan mereka sulit sekali untuk menembus pasaran sehingga perkembangan sentra kerajinan gerabah cukup mengkhawatirkan, selain itu sangat jarang generasi muda untuk menekuni bidang kerajinan gerabah maka proses pengkaderan pun menjadi salah satu kendala selain kendala pemasaran diatas.

 

Diksar Teater Biassukma

 

 

pada tanggal 21-22 Desember 2010, Teater Biassukma SMA Negeri 1 Jepara melaksakan “DIKSAR” yaitu Pendidikan Dasar untuk para anggota baru Teater Biassukma di SMA Negeri 1 Jepara. Diksar merupakan sebuah ritual tahunan bagi Biassukma dalam menyeleksi dan memilih calon anggota baru.

Diksar tersebut juga mengundang teman-teman dari teater-teater sekolah lain seperti Bosas (SMK Negeri 3 Jepara), Sangteja (MA Masalikil Huda Jepara), Epos (SMA Negeri 1 Pecangaan), Peace (SMA Negeri 1 Tahunan), dan masih banyak yang lainnya.

Tepat jam 15.00, upacara pembukaan dimulai. Upacara itu tidak seperti upacara yang biasa dilakukan, upacara dilaksanakan di aula SMA Negeri 1 Jepara dengan posisi duduk di tempat yang telah disediakan.

Acara tersebut dibuka oleh pelatih teater Biassukma, yaitu Kustam Ekajalu yang juga merupakan alumni teater Biassukma.

Selesai upacara pembukaan, calon-calon anggota atau peserta diksar yang merupakan siswa-siswi SMA Negeri 1 Jepara itu mengikuti materi tentang dasar-dasar keteateran yang mereka pilih. Mereka harus memilih salah satu materi dari 3 materi yang ada, seperti lighting di aula, make up di ruang PKG, dan ilustrasi musik ruang musik. Dalam materi lighting, mereka diajarkan cara memainkan lampu dengan efek-efek tertentu dalam sebuah pementasan, misalnya dalam keadaan marah, diberi lampu warna merah. Sedangkan dalam make up, mereka diajarkan cara merias agar memperkuat watak sang aktor. Kemudian dalam musik, mereka diajarkan bagaimana cara mencairkan suasana dalam sebuah pementasan dengan musik ataupun suara-suara yang tepat dan serasi dalam setiap adegan.

Malam harinya, semua peserta tersebut dilibatkan langsung dalam pementasan teater yang juga dihadiri oleh Pak Udik Agus D W yang merupakan mantan Pembina teater Biassukma yang sekarang menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMA Negeri 1 Mlonggo.

Untuk mempermudah koordinasi, peserta dibagi ke dalam 6 kelompok. Masing-masing kelompok menampilkan sebuah pementasan dengan naskah yang mereka buat sendiri dan dipresentasikan dalam diksar tersebut dengan durasi maksimal 20 menit. Semua peserta diterjunkan langsung untuk mempraktekkan materi yang telah mereka dapatkan. Mereka harus bisa membagi tugas antar anggota kelompok, misalnya ada yang bermain sebagai aktor, tim setting, ada pula yang menjadi tim ilustrasi musik.

            Setelah pementasan selesai, diadakan evaluasi bersama tentang pementasan yang telah ditampilkan. Dalam evaluasi tersebut  membedah semua kekurangan ataupun kelebihan dalam pementasan masing-masing kelompok.

“Suaranya masih kurang keras, tidak terdengar sampai di belakanng. Dan juga intonasi dalam setiap pengucapan masih kurang” kata salah seorang peserta dari Teater Bosas.

Kemudian setelah evaluasi selesai, para peserta mengikuti kegiatan rutinitas malam yaitu pelayaran ke pulau kapuk.

Pagi harinya, Rabu tanggal 22 Desember 2010, aktivitas dimulai kembali. Para peserta dikumpulkan di lapangan SMA Negeri 1 Jepara untuk persiapan hicking dengan rute dari SMA Negeri 1 Jepara berjalan sampai Teluk Awur, dalam perjalanan ada 3 pos yang harus mereka lewati. Masing-masing pos dijaga oleh kakak-kakak kelas 12 dan juga alumni.

Pos pertama, adalah pos pembacaan puisi. Di sini mereka diberi tugas untuk melanjutkan perjalanan dengan membaca puisi secara bergantian di sepanjang jalan hingga sampai pos kedua.

Pos kedua, adalah pos keaktoran. Mereka disuruh memerankan sebuah peran yang mereka inginkan dengan gestur-gestur yang mencirikan peran tersebut. Tugas itu dilakukan sepanjang jalan hingga sampai di pos ketiga.

Kemudian pos ketiga, adalah pos yang dijaga oleh para alumni. Dalam pos ini, dibagi menjadi 3 bagian. Pertama adalah motivasi. Mereka diberi pertanyaan tentang alasan mereka ikut ke dalam keluarga Biassukma. Kemudian yang kedua adalah loyalitas, mereka diuji seberapa besar loyalitas atau kesetiaan mereka terhadap Biassukma. Dan yang ketiga adalah kebersamaan, mereka ditantang tentang bagaimana cara mempertahankan rasa kebersamaan dan kekeluargaan mereka walaupun diterpa oleh berbagai masalah yang ringan maupun berat.

Setelah semua pos terselesaikan, para peserta kembali ke SMA Negeri 1 Jepara untuk bersih-bersih diri terlebih dahulu, kemudian mereka diberi materi keaktoran dan manajemen keorganisasian oleh Kustam Ekajalu di aula. Materi keaktoran mengajarkan tentang bagaimana cara menjadi sebuah aktor yang baik dalam pentas. Sedangkan manajemen keorganisasian mengajarkan bagaimana untuk menjalankan sebuah organisasi dengan baik, dengan segala sesuatu yang ada dalam organisasi tersebut.

Dalam sebuah acara penerimaan anggota, pasti akan ada kegiatan yang dilakukan untuk mengukuhkan dan meresmikan para calon anggota baru sebagai anggota yang sah. Untuk itu, sore harinya diadakan upacara pengukuhan di kompleks aula. Para peserta diksar dikumpulkan dan dibariskan di tempat parkir sebelah aula dalam keadaan mata tertutup slayer. Sedangkan semua panitia, kakak-kakak kelas 12, dan alumni, menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Syukur” secara serempak dengan nada menangis.

Setelah semua peserta dikukuhkan sebagai anggota keluarga Biassukma, acara terakhir pun dilaksanakan. Semua peserta maupun panitia mengadakan upacara penutupan di aula, kemudian setelah itu acara potong tumpeng sebagai ritual karena Biassukma telah mendapat keluarga baru. (Tian - ketua Teater Biassukma periode 2010-2011)